KOPI KOYA Minahasa
Kopi Khas Minahasa dari Perkebunan Rakyat Koya Tondano Selatan.Minahasa
Masyarakat Koya sedang berupaya memperkenalkan potensi kopi lokal agar bisa sejajar dengan merek kopi nasional yang sudah mendunia sepeti kopi Aceh Gayo, Toraja, Bali, Mandalingan atau Papua.
Ia lagi mempromosikan kopi Koya Minahasa agar lebih dikenal para pecinta kopi.
Kopi Koya Minahasa merupakan jenis kopi Arabika yang tumbuh di bukit Masarang, kopi ini dikembangkan petani asal Koya Uluna, Minahasa Ada harapan sebenarnya dari kopi Kotamobagu. Tapi secara kualitas pengolahannya belum seperti di daerah lain.
Namun potensi tetap ada dari jenis robusta, disebut biji merah. "Ini fine robusta yang bijinya besar. Punya potensi bersaing dengan kopi," ungkapnya.
Kopi Koya ini pun sudah banyak peminat, beberapa waktu lalu, pemilik kedai kopi dari Jepang membeli 1 kilogram biji kopi, selain itu kedai kopi di Jakarta yakni Gojakid dan Discuss Warung Kopi menggunakan kopi Koya
" Sekarang mereka minta lagi," ujarnya.
zPersoalan saat ini, produksi petani masih terbatas, sehingga kontinuitas produk belum terjamin
Jika kembangkan dengan profesional menjadi potensi yang menjanjikan, namun langkah ini masih terkendala dengan pemasaran
"Petani mengeluh, disuruh tanam tapi tak ada pemasaran," kata dia.
Dari segi kualitas sebenarnya bisa bersaing. Almontana mengatakan, sempat membuat 53 kilogram kopi koya dari petani.
Ia memberanikan diri mematok harga kopi Koya dengan harga setara kopi yang sudah lebih dulu tenar seperti Bali dan Toraja. Hasilnya kopinya menarik minat kedai kopi di Jakarta
"Saya jualper kilogram 270 ribu. Per 250 gram 75 ribu. Sama dengan Toraja dan Bali. Ternyata laku, konsumen minta lagi. Ini peluang yang belum tergarap," jelasnya.
Ia juga berani karena menjunjung kualitas tinggi, bahkan menyortir satu per satu biji kopi yang baik kualitasnya.
Saat uji cita rasa ternyata kopi Koya juga berhasil meraih juara satu dibanding kopi Gayo, Bali, bahkan Toraja. Ia membuka elmonts karena punya gagasan, banyak orang Minahasa pergi keluar negeri, tapi berapa banyak yang bangun tanah mereka di kampung.
Apa yang diperoleh di luar mampu tidak diaplikasikan di kampung.
"Sesuatu yang bagus itu berasal dari kita bukan dari siapa-siapa," kata dia.
"Saya cinta ini tanah, mati matian mau kembangkan," kata dia.
Komentar
Posting Komentar