Tentara Kompeni Belanda Rakyat Minahasa
PROVINSI KEDUA BELAS BELANDA Minahasa (dahulu disebut Tanah Malesung) adalah
kawasan semenanjung yang berada di bagian timur laut Pulau Sulawesi. Dasar
wilayah Minahasa modern terbentuk antara abad ke-17 dan ke-18, ketika suatu
kawasan pegunungan yang luasnya sekitar 4.800 km persegi di ujung utara
semenanjung Sulawesi terkucil dari daerah sekitarnya akibat serangkaian
peperangan dengan Kerajaan Bolaang dan perjanjian yang membawa mereka ke bawah
kedaulatan eksklusif VOC, yang sekaligus memulai proses westernisasi yang
intensif di Minahasa serta hubungan erat antara penduduk setempat dan Belanda. •
Persekutuan Minahasa dan Belanda Sebenarnya, orang Barat pertama yang datang ke
Minahasa adalah orang Portugis di bawah Simao d’Abreu, yang datang ke Manarouw
(Manado) pada tahun 1523 untuk menghadang ekspansi Ternate ke wilayah Sulawesi
utara. Orang Portugis kemudian mulai menyebarkan agama Katolik, yang ditandai
dengan pembaptisan massal terhadap Raja Siauw (Manarouw) dan 1.500 orang
rakyatnya di muara Sungai Tondano. Dalam perkembangannya, letak Manado yang
strategis sebagai pintu gerbang transit kawasan timur Nusantara bagi kapal-kapal
dagang bangsa asing mendorong Spanyol merebut benteng Portugis di Amurang pada
1550-an. Orang Spanyol kemudian membangun benteng di Manado dan memulai
penanaman kopi di daerah itu. Kedudukan Spanyol di Manado segera terancam oleh
orang Belanda, yang mengincar tanah pertanian yang subur di dataran tinggi
sekitar Danau Tondano untuk memberi makan garnisun VOC di daerah Maluku. Atas
undangan beberapa kepala suku lokal, Belanda mengusir Spanyol dari Minahasa pada
tahun 1660 dan membantu suku-suku lokal meraih kemenangan militer mutlak melawan
suku Bolaang di selatan pada tahun 1693. Manado, Pada tahun 1679, lewat gabungan
tekanan militer dan kesempatan perdagangan yang menguntungkan, para pemimpin
"seluruh suku di landstreek van atau ujung paling utara Sulawesi” mengadakan
sebuah perjanjian dengan VOC, di mana mereka membatalkan sumpah setia mereka
kepada raja Bolaang dan menyatakan dirinya sebagai kawula Kompeni. Sejak itu,
landstreek van Manado diperintah secara langsung sebagai wilayah koloni Belanda
dengan sebutan Minahasa, yang diartikan sebagai "telah menjadi satu”—merujuk
kesepakatan antara berbagai kelompok sub-etnik Minahasa yang terdiri atas orang
Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tolour (Tondano), Tonsawang, Ponosakan, Pasan, dan
Bantik untuk bersatu. Landstreek van Manado terdiri atas sekitar 27 buah unit
politik terpisah yang disebut walak, di mana masing-masing berhubungan secara
independen dengan penguasa Belanda. Berbagai usaha VOC untuk menunjuk pemimpin
tertinggi di seluruh kawasan itu mengalami kegagalan karena pertikaian sengit di
antara walak-walak tersebut, yang terus-menerus diperparah akibat praktik
tradisional untuk mengayau. Keadaan baru berubah dengan cepat setelah kewenangan
VOC digantikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1809, pasukan
Belanda, dengan mengerahkan artileri dan melakukan pengepungan selama sembilan
bulan, menindas sebuah pemberontakan besar yang dilakukan sejumlah walak di
Tondano. Setelah berakhirnya Perang Tondano, pada tahun 1822 Belanda mulai
menerapkan kebijakan tanam paksa tanaman kopi secara besar-besaran di wilayah
pegunungan Minahasa. Intensifikasi administrasi kolonial pun meluas akibat
pertimbangan ekonomi maupun kebutuhan, dan akhirnya menyebabkan transformasi
para pemimpin walak menjadi sebuah korps birokrasi yang dilatih, diarahkan dan
digaji oleh Belanda. Pada masa inilah ikatan longgar dari suku-suku Minahasa
mulai menguat dan membentuk sebuah komunitas baru di Minahasa, yang terutama
didasarkan pada kesamaan agama. Penyebaran agama Kristen sendiri telah dimulai
sejak zaman Portugis dan Spanyol, tetapi baru antara tahun 1831 hingga 1891
sebagian terbesar penduduk Minahasa masuk agama Kristen lewat karya misi yang
dilakukan oleh NZG (Nederlandsch Zendeling Genootschap, atau Komunitas
Misionaris Belanda). Daya tarik agama Kristen bagi penduduk lokal pada periode
ini sebagian berkaitan dengan hubungan bergengsi agama tersebut dengan penguasa
Belanda. Kebijakan pemerintah kolonial untuk melarang praktik pengayauan,
penghapusan perbudakan maupun pembangunan kembali rumahrumah dan permukiman
penduduk juga ikut menyebabkan bergesernya, atau punahnya, aktivitas agama
asli-yang bergantung pada praktik-praktik tersebut, • Soldadu Kompeni Sekalipun
praktik-praktik agama asli Minahasa terkikis akibat penyebaran agama Kristen,
penghormatan tradisional penduduk lokal terhadap kekuatan dan kemampuan
berperang tetap hidup. Dipuji oleh orang Belanda sebagai "salah satu bangsa
militer terbaik di dunia," kesenangan berperang orang Minahasa bahkan disalurkan
oleh penguasa Belanda ke dalam barisan militer kolonial. Pengabdian para pemuda
Minahasa dalam dinas militer Belanda sendiri telah berlangsung sejak masa
pemerintahan VOC pada abad ke-18. Pada awalnya, mereka dikenal sebagai orang
Alifuru, karena belum memeluk agama Kristen. Mereka terutama berasal dari
walak-walak sekitar Manado, yang hingga pertengahan abad ke-19 secara rutin
membantu orang Belanda mengusir para perompak dari Mindanao, yang sering kali
menyerang wilayah pantai Sulawesi Utara untuk menangkap mpenduduk setempat dan
menjadikannya sebagai budak. Setelah pergantian kekuasaan dari VOC ke
pemerintahan kolonial Belanda, status Hulptroepen (tentara bantu) bagi prajurit
Minahasa mulai muncul. Penolakan sempat terjadi pada tahun 1808, bahkan hingga
memicu pecahnya Perang Tondano (1808–1809). Namun, setelah Hindia Belanda
diserahkan kembali oleh Inggris kepada Belanda, para prajurit Minahasa mulai
ikut ambil bagian dalam perang-perang penaklukan Belanda di Nusantara-sejak
penindasan pemberontakan Pattimura di Maluku pada tahun 1817 hingga penaklukan
Aceh pada awal abad ke-20. militer berskala be Tradisi perekrutan militer
bersekala besar sendiri dimulai pada tahun 1825, ketika sekitar 800 orang
Minahasa direkrut untuk membantu Belanda menindas perlawanan Pangeran Diponegoro
pada tahap terakhir Perang Jawa. Setelah tahun 1850, Minahasa menyuplai sebagian
besar kontingen pribumi Kristen dari Tentara Hindia Belanda yang disebut sebagai
”Ambon”. Jumlah prajurit yang direkrut dari Minahasa melonjak ketika berkobarnya
Perang Aceh, dan pada awal abad ke-20, orang-orang Minahasa bertempur dalam
perang-perang kolonial di Jambi, Sulawesi Selatan, Flores dan Papua. Selain
prajurit, orang-orang Minahasa juga bertugas sebagai gewapende politie atau
polisi bersenjata-pada tahun 1916, jumlahnya sekitar 2.000 orang. Keberanian
para prajurit Minahasa dalam pertempuran membuat militer Belanda antusias untuk
merekrut mereka ke dalam pasukan kolonial yang baru, KNIL (Koninklijk
Nederlands-Indisch Leger). Para pemuda Minahasa sendiri menanggapinya dengan
tidak kurang antusias. Jaminan hidup layak dan dihormati merupakan pilihan utama
dan idaman para pemuda, yang sering kali direkrut dari daerah-daerah Minahasa
yang miskin. Selain itu, mereka menandatangani kontrak serdadu untuk menghindari
kerja wajib Herendienst, kerja paksa yang berlaku pada zaman itu dan dianggap
sebagai hal yang memalukan. Gengsi soldadu pun mengantar banyak di antara mereka
kemudian terpilih menjadi pemuka masyarakat dan pemuka agama setempat. Selain
itu, rasa hormat tradisional yang menjunjung tinggi nilai-nilai keprajuritan
juga memainkan peranan dalam motivasi para rekrutan. Di setiap desa di Minahasa
terdapat petugas pendaftaran tentara yang disebut sebagai Werpen dan kepada
setiap pemuda yang diterima diberikan aangeld (uang muka) sebesar f.60-sudah
termasuk f.10 yang dipotong untuk petugas pendaftaran. Para pemuda yang masuk
dinas militer itu dikumpulkan di Benteng Amsterdam, Manado, sebelum dikirimkan
dengan kapal laut ke Bandung untuk dididik di sana. Antusiasme para pemuda
Minahasa untuk menjadi "Soldadu Kompeni” di kemudian hari banyak dikecam oleh
kaum nasionalis. Lewat "Rondreidend Toncel gezels chap de Vrede”, kaum
nasionalis mengadakan sebuah lakon sandiwara anti-perekrutan KNIL. Dalam salah
satu pertunjukannya, seorang pelawak Gorontalo bernama Sumaila muncul dengan
berpakaian seragam dan pangkat serdadu Belanda (Soldaat) dan menyanyikan lagu
berjudul "Kalau Teken Kompeni Kasihan” yang memiliki syair berikut ini: Kalau
teken Kompeni, kasihan Terima pakaian sepatu goni kasihan Rasa senang di dalam
hati Jual kepala sampai mati Jadi serdadu sungguh senang kasihan. Over plaats ke
Surabaya kasihan Mabuk laut sampai payah kasihan Di dalam kapal digoyang
gelombang Baru mengingat adik dan abang Jadi serdadu tidak senang kasihan.
Hari-hari belajar berbaris kasihan Buku-buku abis tergaris kasihan Tidak mau
masuk Tangsi Karena serdadu tidak senang kasihan. Saya minta makan enak kasihan
Dikasih bubur campur melk kasihan Saya minta kastrolie Hanya dikasih "god
verdori” Jadi serdadu tidak senang kasihan. Sajak Sumaila tersebut menyindir
perlakuan diskriminatif Belanda terhadap para prajurit Indonesia. Dalam skala
gaji, ada perbedaan yang sangat besar antara gaji seorang sersan Belanda dan
sersan Inlander. Akibat propaganda Sumaila tersebut, beberapa pemuda Siau yang
sedianya hen. dak mendaftarkan diri menjadi serdadu mengundurkan diri sehingga
dokter Van Bersen yang telah berada di Siau untuk memeriksa kesehatan para calon
serdadu terpaksa pulang dengan tangan kosong. Insiden itu sendiri membuat
”Rondreidend Toncel gezels chap de Vrede” dilarang tampil di Siau dan sejumlah
tempat di Keresidenan Manado. Akan tetapi, secara umum agitasi penolakan kaum
nasionalis terhadap perekrutan pemuda lokal ke dalam tentara kolonial tidak
banyak berhasil. Hingga tahun 1940-an, menjadi kebanggaan bagi para orang tua
Minahasa apabila anaknya menjadi soldadu. Sekalipun ada diskriminasi dalam soal
gaji, bagi banyak orang Minahasa-dan orang Indonesia lainnya - pada masa itu
menjadi prajurit KNIL adalah pekerjaan yang menggiurkan. Seorang prajurit
pribumi dapat memperoleh pendapatan yang relatif lebih baik daripada penduduk
rata-rata, sementara KNIL menyediakan rumah, layanan kesehatan dan sekolah bagi
anak-anaknya. Selain itu, pensiunan prajurit mendapatkan pensiun bulanan. Karena
itu, kebanyakan prajurit Minahasa dalam KNIL tidak bertempur bagi ide-ide
kebangsaan ataupun demi Sri Ratu dan Negara. Mereka bertempur lebih untuk
memperoleh nafkah dan mereka memilih KNIL karena ”kompeni” bertempur dengan baik
di masa lalu, di mana mereka tidak pernah kalah dalam perang lokal melawan
penduduk setempat . Otonomi Minahasa Sekalipun catatan komposisi rasial dalam
KNIL pada tahun 1929 menunjukkan bahwa orang Minahasa, yang dalam catatan
Belanda dikelompokkan sebagai "Menadonese”, hanya berjumlah 15 persen dari
keseluruhan anggota tentara kolonial, mereka mendapatkan status diistimewakan
sebagaimana orang Ambon. Selain itu, mereka juga menduduki status elite: dalam
sebuah batalion KNIL yang kompi-kompinya dibagi menurut garis rasial yang ketat,
para prajurit Minahasa disatukan dengan orang Eropa dalam Kompi Pertama. Di
samping alasan kedekatan kultural mereka dengan orang Eropa, ada juga alasan
praktis yang bersifat disiplin: sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 1925
merekomendasikan pemisahan para prajurit Manado dari prajurit bersuku lainnya
dengan alasan ”keangkuhan di antara mereka dapat menimbulkan perkelahian.” Hal
ini dikarenakan banyak prajurit Minahasa, yang dalam catatancatatan KNIL dipuji
sebagai prajurit yang baik dan gagah berani di medan laga, cenderung memandang
rendah prajurit rendahan pribumi lainnya. Di garnisun, orang-orang Minahasa
dianggap sebagai prajurit yang sangat baik. Para ”om” Manado yang lebih tua
memiliki kewenangan yang amat besar dan teladannya memiliki pengaruh yang besar.
Namun, diskriminasi rasial yang dilembagakan dalam KNIL, yang meliputi berbagai
hal--dari jenis makanan hingga jumlah uang pensiun-juga menimbulkan kekecewaan
di kalangan banyak prajurit Minahasa. Dianggap sebagai "kelompok elite” militer
di antara orang pribumi sekaligus frustrasi karena aspirasi mereka untuk
dipersamakan derajatnya dengan orang Eropa dianggap angin lalu oleh pihak
penguasa, orang Minahasa di barakbarak militer di seluruh Hindia Belanda
membentuk komunitas-komunitas ketat yang terisolasi dari kelompok lainnya karena
kebanggaan diri sekaligus kecemburuan yang bersifat kesukuan. Para anggota dari
komunitas semacam itulah di pangkalan militer di Jawa Tengah yang mendirikan
organisasi resmi nasionalis Minahasa pertama, Perserikatan Minahasa, pada tahun
1909. Organisasi ini dengan cepat berkembang di seluruh Pulau Jawa, dan pada
tahun 1915 memiliki cabang di Minahasa sendiri. Pada tahun 1917, Perserikatan
Minahasa telah memiliki anggota sekitar 10.000 orang, membuat mereka menjadi
organisasi pribumi kedua terbesar di Hindia Belanda setelah Serikat Islam.
Sekalipun nasionalisme Minahasa tidak pernah mengambil bentuk kekerasan selama
masa kolonialisme, kemunculan Perserikatan Minahasa menimbulkan masalah
tersendiri bagi orang Belanda. ”Para prajurit Minahasa kita," demikian tulis
seorang perwira Belanda pada tahun 1917, "selalu memberikan kesan pada diriku
bahwa mereka dapat menjadi sebuah bahaya, bahwa mereka ingin tetap memelihara
sekaligus meningkatkan hak-hak istimewa mereka, apa pun caranya.” Dihadapkan
dengan sebuah rencana untuk menghapuskan status khusus mereka pada tahun 1919,
para prajurit Minahasa dengan murka menyampaikan petisi kepada gubernur jenderal
agar segera melaksanakan program gelijkstelling—"penyetaraan” status
hukum-seluruh dengan orang Eropa. Pada saat yang bersamaan, pemimpin kampanye
ini, J.H. Pangemanan, bersikeras bahwa gelijkstelling tidak sama dengan
naturalisasi, dan bahwa . orang Minahasa ingin tetap menjadi orang Minahasa.
Petisi gelijkstelling membuat orang Minahasa terlibat konflik langsung yang
tidak lazim dengan pemerintah kolonial, yang memilih untuk tidak mengabulkan
permintaan tersebut. Hak-hak istimewa yang dinikmati anggota militer Minahasa
juga dicabut seperti yang telah direncanakan pada tahun 1921, sekalipun sejumlah
hak istimewa dipulihkan kembali empat tahun kemudian. Para prajurit sendiri,
sebagian karena semakin realistis, perlahan-lahan menjadi bersikap apolitik dan
konservatif. Untuk mengatasi ketidakpuasan para prajurit maupun orang Minahasa
pada umumnya, pemerintah kolonial mengada- kan sejumlah pembaruan dan perbaikan
di bidang politik, ekonomi dan agama di Minahasa sendiri. Pada tahun 1919 di
Manado diresmikan Minahasaraad, se buah majelis perwakilan Minahasa. De- ngan
sebuah sistem pemilihan langsung dan penduduk pribumi yang merupakan mayoritas
mutlak, Minahasaraad merupa- kan organ pemerintah paling demokratis yang pernah
didirikan di Indonesia pada zaman kolonial. Mengedepankan tujuan loyaal streven
naar zelfbestuur, meraih pemerintahan sendiri yang setia, majelis baru itu
menghapuskan kebijakan kerja paksa, merencanakan sebuah program transmigrasi
lokal dan menyibukkan diri dalam masalah pelayanan kesehatan, per- dagangan dan
kredit usaha. Mereka juga mempertahankan pendidikan lokal dari rongrongan
pemerintah pusat. Sementara itu, pemilihan Minahasaraad sendiri men- jadi sebuah
acara yang sangat populer. Menurut G.S.S.J. Ratulangie, yang menjadi sekretaris
Minahasaraad antara tahun 1924 hingga 1927, majelis itu me- rupakan sebuah
"badan ultramodern" dan "benar-benar berhasil" Jika saja tidak terjadi invasi
Jepang, kemajuan menuju otonomi politik akan mengembangkan Minahasaraad menjadi
sebuah groepsge- meenschap atau pemerintahan kelompok komunitas" di Minahasa.
Loyalitas politik, yang digabungkan dengan agama Kristen yang dipeluk oleh
mayoritas warganya dan westernisasi ke- budayaan mereka, sendiri membuat Mina-
hasa dijuluki sebagai provinsi ke-12" Be- landa. Julukan ini menghadapi ujian
ter- beratnya ketika Perang Pasifik berkobar. Minahasa Terseret Perang Pada
tahun 1938, pemerintah kolonial membentuk wilayah-wilayah setingkat provinsi
administratif di Hindia Belanda. 3 Pulau Sulawesi termasuk dalam wilayah
Groote-Oost Nederlands-Indiƫ (Timur Be- sar Hindia-Belanda), pada waktu itu ter-
bagi atas dua wilayah pemerintahan, yaitu wilayah pemerintahan Residentie Manado
(Keresidenan Manado), yang dipimpin oleh seorang residen dan wilayah peme-
rintahan Zuid Celebes en Onderhorigheden (Sulawesi Selatan dan Daerah
Sekitarnya), yang dipimpin oleh seorang gouverneur (gubernur). Keresidenan
Manado, yang beribu- kota Manado, meliputi wilayah yang kini termasuk dalam
provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Wilayah pemerintahan
Keresidenan Manado terdi- ri atas empat afdeling, atau bagian wilayah
pemerintahan, yang dipimpin oleh se- orang assistent resident (asisten residen).
Berikut adalah keempat bagian wilayah pemerintahannya. 1. Afdeling
Manado-Minahasa, dengan ibukotanya Manado, yang terbagi atas tiga wilayah
onderafdeling, masing- masing dipimpin oleh seorang hoofd van het plaatselijk
bestuur (kepala pe merintahan negeri) dan seorang con- troleur (kontrolir): a.
Onderafdeling Minahasa, yang ter- diri atas enam distrik pemerintah- an. b.
Onderafdeling Bolaang-Mongondow, yang terdiri atas beberapa wilayah landschap
atau kerajaan. C. Onderafdeling Sangir Talaud, yang terdiri atas tiga wilayah
landschap atau kerajaan. 2. Afdeling Gorontalo, dengan ibukotanya Gorontalo,
yang terdiri atas beberans wilayah landschap atau kerajaan. 3. Afdeling Poso,
dengan ibukotanya Po. so, yang terdiri atas tiga wilayah onder. afdeling, yaitu:
a. Onderafdeling Poso; b. Onderafdeling Luwuk-Banggai; C. Onderafdeling
Kolonodale. 4. Afdeling Donggala, dengan ibukotanya Palu, yang terdiri atas
beberapa wilayah landschap atau kerajaan. Onderafdeling Minahasa merupakan
satu-satunya wilayah di kawasan Groote- Oost Nederlands-Indiƫ, yang tidak
dikate- gorikan sebagai wilayah landschap atau daerah kerajaan. Dengan demikian,
rakyat Minahasa dengan sistem pemerintahan yang berbentuk distrik, memang tidak
mengenal struktur pemerintahan kerajaan sejak dahulu kala, melainkan telah meng"
anut sistem pemerintahan demokrasi murni yang bersifat tradisional sebagai
warisan dari para leluhur mereka. Pada tanggal 10 Mei 1940, Negeri Be- landa
diserang oleh Jerman Nazi. Sebagai balasannya, di daerah afdeling Manado,
Gorontalo, Poso, Donggala, dan kota Manado khususnya, kelompok satuan tu- gas
pemerintah sipil bersama polisi Hin- dia-Belanda menangkapi warga negara Jerman
yang berdomisili di Keresidenan Manado. Selain itu, beberapa orang Be- landa
juga turut diciduk, karena mereka dituduh terlibat sebagai anggota Nation- aal
Socialistische Beweging (NSB) yang ke Jerman Nazi. Mereka kemudian ditahan di
sebuah kamp di Sasaran, Tondano, milik Normaalschool (se- kolah guru rendahan).
Di Keresidenan Manado juga tinggal ratusan orang Jepang. Mereka membuka aneka
jenis usaha di bidang ekonomi di kota Manado dan kota-kota lainnya di Mi-
nahasa. Sebegitu pentingnya Manado di mata Jepang sehingga pada tahun 19400
mereka menempatkan perwakilan konsu- latnya di kota tersebut. Keberadaan per-
wakilan konsulat dan kehadiran koloni pendatang Jepang ternyata tidak terlepas
dari rencana penyerbuan Tokyo ke Hindia Belanda, di mana Manado dijadikan salah
satu pintu masuknya. Pada umumnya, pa- ra pengusaha Jepang di Manado sendiri
memiliki tugas rangkap dan khusus: me reka merupakan bagian dalam jaringan
spionase pemerintah Dai Nippon. Di antara para spion ini terdapat nama-nama
seperti Yanai Minoru, pemilik Firma Fu- taba dengan toko "Kaneko dan Hosaya",
yang pada masa pendudukan Jepang ke- mudian menjabat sebagai residen Manado;
Sugawara, tukang potret di kota Tondano, yang kemudian kembali ke Minahasa se-
bagai seorang perwira menengah Tentara Jepang; dan Yamaguchi, seorang pegawai
toko di kota Langowan, yang kemudian menjadi kepala Tokkeitai (polisi militer
angkatan laut Jepang) di Manado. Pengawasan khusus dilakukan oleh penguasa
kolonial selama kunjungan ka- pal-kapal perang Jepang di perairan Hin dia
Belanda. Misalnya, saat kapal penyapu ranjau Okinoshima di bawah Laksamana Muda
Miyata mengunjungi Manado pada awal tahun 1937, para pejabat lokal di- minta
membayangi dua perwira Jepang, yang bepergian ke atas kapal itu dengan menyamar
sebagai orang sipil. Mereka adalah Kapten Yasuo Inouye dari Ang- katan Darat
Jepang dan Mayor Choguro Takashi dari Angkatan Laut Jepang. Inou- ye ternyata
Kepala Biro Nanjo (Wilayah Selatan) dari Departemen Angkatan Laut. Ketika Jepang
bergabung dengan Jer- man Nazi dan Italia Fasis dalam Pakta Tiga Negara dan
membentuk persekutuan Poros Roma-Berlin-Tokyo pada 27 Sep- tember 1940,
pemerintah Hindia Belanda mendeportasi warga Jepang yang ada di Hindia-Belanda,
termasuk yang berada di wilayah Keresidenan Manado. Ket Gambar: • Tugu
peringatan Verbond Minahasa-Nederland, sebuah ikatan persekutuan di antara kedua
bangsa yang ditandatangani pada tahun 1679. (Sumber: Wikipedia) • Potret dari
dua orang pejuang trudisional Minahasa yang diambil pada akhir Abad ke- 1 9
Kesukaan berperang orang Minatuassa disalurkan oleh Belanda dangan merekrut
mereka Kerala tentara Kolonial (Sumber Wikipcdia) • Benteng Amsterdam, Manado.
Di benteng ini para rekrutan KNIL dari seluruh Minahasa dikumpulkan se- belum
dikirimkan ke Jawa untuk mendapatkan pelatihan militer Mengalami kerusakan berat
selama masa pendudukan Jepang, bangunan kuno ini kemudian dibongkar sama sekali
setelah kemerdekaan Indonesia. • Jesajas Pongoh, salah satu "Pahlawam" KNIL
Minahasa. la memperoleh medali Militaire Willems Orde Kelas III, sebuah medali
yang sangat jarang diberikan-apalagi kepada orang pribumi atas ke-beraniannya
selama operasi militer di Sulawesi Selatan pada tahun 1907. (Sumber: Soeara
Militaer Minahasa) • Sebuah barisan KNIL Minahasa berbaris melewati kantor pos
Manado, 1918. Banyak orang Minahasa secara hukum disamakan derajatnya dengan
orang Eropa, sementara para pemudanya diwajibmiliterkan seperti orang Eropa di
Hindia Belanda sejak tahun 1917. (Sumber: Ministerie Defensie). Sumber:
Hancurnya KNIL Minahasa (Nino Oktorino) Di sadur dan di salin Serba serbi
Minahasa.
Komentar
Posting Komentar